Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, Maret 2021
MENANAM POHON BERNILAI EKONOMIS TINGGI
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Angelina Dame Ria Munte 191201043
Philip Jordan Simanjuntak 191201048
Adinda Rahmayani 191201056
Ratna Fadilah 191201058
Taruly Oktavyani Patricya 191201112
Daniel
Sihombing 191201115
Grace
Rama Novelyta Br Sembiring 191201120
Kelompok 3
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERAA
UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan laporan praktikum pemanenan hasil hutan yang berjudul
“Menanam Pohon Bernilai
Ekonomi Tinggi”
ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan praktikum pemanenan hasil hutan ini
disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum pemanenan hasil hutan dan sebagai
salah satu syarat masuk praktikum pemanenan hasil hutan, Program Studi
Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih
yang besar kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi
praktikum dengan baik begitu juga dengan asisten praktikum ekonomi sumber daya hutan yang telah membantu penulis
dalam melaksanakan praktikum yang hasilnya kemudian dituangkan dalam laporan
ini.
Penulis sadar,
penulisan
laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi.
Oleh sebab itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca
demi penyempurnaan laporan praktikum pemanenan hasil hutan ini. Akhir kata,
semoga laporan praktikum pemanenan hasil
hutan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Maret
2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR
ISI ....................................................................................................... ii
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................. 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi........................................ 3
2.2 Pohon Yang Dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi
Tinggi.................... 3
2.3 Cara Menanam Pohon Yang Bernilai Tinggi....................................... 3
2.4 Jenis Pohon Yang Bernilai Ekonomi Tinggi........................................ 4
2.5 Produk Yang Dihasilkan..................................................................... 5
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 6
3.2 Saran.................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Hutan merupakan
sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan
baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung dari keberadaan
hutan di antaranya adalah kayu, hasil hutan bukan kayu dan satwa. Sedangkan
manfaat tidak langsungnya yakni adalah berupa jasa lingkungan, baik sebagai
pengatur tata air, fungsi estetika, maupun sebagai penyedia oksigen dan
penyerap karbon. Penyerapan karbon sendiri terjadi didasarkan atas proses
kimiawi dalam aktivitas fotosintesis tumbuhan yang menyerap CO2 dari atmosfer
dan air dari tanah menghasilkan oksigen dan juga karbohidrat yang selanjutnya
akan berakumulasi menjadi selulosa dan lignin sebagai cadangan karbon
(Masripatin et al,. 2011).
Tanaman hias
juga bisa memberikan arti nilai ekonomi. Hal ini karena pada usaha tani
budidaya tanaman hias merupakan suatu kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga
kerja, sehingga budidaya tanaman hias sebagai penyedia lapangan kerja. Tanaman
hias juga mempunyai nilai jual tinggi sehingga menjanjikan keuntungan yang baik
dan hasil secara ekonomi tinggi. Arti ekonomi juga ditunjukkan dengan adanya
beberapa jenis tanaman yang menghasilkan devisa bagi negara.Tanaman hias adalah
tanaman yang memiliki karakteristik morfologi bernilai estetik dan eksotik. Tanaman
hias merupakan salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan
memiliki prospek yang sangat cerah sebagai komoditas unggulan ekspor maupun
untuk pemasaran di dalam negeri (Titiek, 2018).
Nilai kayu
sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) bagi sebagian besar penduduk
yang bermukim di wilayah
Kabupaten Wonosobo memiliki
peran penting, karena hasilnya
mampu memberikan
konstribusi finansial dalam
menunjang pendapatan keluarga
petani. Oleh karena peranannya yang
positif tersebut, diduga
lebih dari 50
% jumlah kecamatan
yang berada di
wilayah Kabupaten Wonosobo. Sengon
sebagai komoditi ekonomi
dalam hutan rakyat
yang dianggap cukup prospektif dan menjanjikan dari aspek finansial, pada
kenyataannya masih terkendala oleh permasalahan produktivitas. Pertumbuhan penduduk
dan tuntutan kualitas
serta kuantitas pangan,
papan dan energi
telah menyebabkan manusia memanfaatkan sumber
daya alam melebihi kapasitasnya. Peningkatan kebutuhan hidup tersebut
tercermin dari perubahan antara lain
meliputi peningkatan penggunaan energi dari bahan
bakar fosil maupun
perubahan penggunaan lahan.
Kedua hal tersebut
dapat menyebabkan
peningkatan panas global
yang selanjutnya menyebabkan
perubahan iklim global,
serta terjadinya peningkatan
luasan lahan kritis (Heru et al., 2019).
Kurangnya pemahaman petani hutan terhadap kemampuan lahan
yang dapat dioptimalkan pengelolaannya sehingga dapat menjadi sumber
penghasilan yang menjajikan untuk kehidupan para petani hutan rakyat. Hal
mendasar yang masyarakat tidak pahami adalah nilai ekonomi langsung dari hutan
rakyat yang dapat memberikan jaminan pendapatan bila hutan rakyatnya dikelolah
dengan baik dan berkesinambungan. Beberapa petani hanya mengetahui nilai
ekonomi langsung dari tanaman perkebunan seperti kakao, langsat, durian dan
cengkeh.
Pendapatan petani hutan terbagi atas dua yakni
pendapatan dari luar hutan
berupa olah lahan perkebunan dan pendapatan dari dalam hutan melalui sistem
agroforestri (Irundu et al., 2018).
1.2 Rumusan Masalah
1 . Apa pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi ?
2 . Bagaimana suatu jenis pohon dapat dikatakan
bernilai ekonomi tinggi ?
3 . Bagaimana menanam pohon bernilai ekonomi tinggi
?
4 . Apa saja yang termasuk pohon bernilai ekonomi
tinggi ?
5 . Bagaimana potensi dari produk yang dihasilkan
oleh spesies pohon bernilai
ekonomi
tinggi tersebut ?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui
pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi.
2.
Untuk mengetahui
dan mengenali jenis pohon dapat dikatakan bernilai ekonomi tinggi.
3.
Untuk mengetahui
cara menanam pohon bernilai ekonomi tinggi.
4.
Untuk mengetahui
apa sajakah yang termasuk pohon bernilai ekonomi tinggi.
5.
Untuk mengetahui
potensi produk yang dihasilkan oleh spesies tersebut.
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
Pohon bernilai ekonomis tinggi adalah pohon
yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dalam bidang pemanfaatan hasil hutan
baik dari segi kayunya ataupun hasil hutan non kayu yang diperoleh dari suatu
pohon atau tanaman.
2.2 Pohon Yang
Dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi Tinggi
Pohon yang dapat dikatakan bernilai ekonomi
tinggi adalah pohon yang mempunyai nilai jual yang tinggi di pasar baik secara
nasional maupun internasional. Pohon yang bernilai ekonomi tinggi pasti
memiliki manfaat atau kegunaan yang banyak.
2.3 Cara
Menanam Pohon Yang Bernilai Tinggi
Penanaman
sengon sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Sebelum penanaman, tanah
harus dibersihkan dari gulma yang dapat menghambat pertumbuhan dan kelangsungan
hidup bibit tanaman. Bibit biasanya ditanam ke lapangan dengan jarak tanam 2 ×
2 m – 6 × 6 m. Jarak tanam yang direkomendasikan tergantung pada tujuan pengelolaan.
Jarak tanam yang umum digunakan untuk produksi kayu pulp adalah 3 × 3 m. Untuk
produksi kayu pertukangan, jarak tanam 6 × 6 m umumnya digunakan pada lahan
yang subur. Untuk produksi kayu bulat premium, pohon sengon kadang juga ditanam
dalam larikan selebar 10 m, dengan jarak antar pohon dalam larikan 1 m. Di
lahan petani, sengon umumnya ditanam dalam blok dengan jarak tanam 2 × 2 m;
kadang-kadang ditanam di garis pagar atau batas lahan dengan tujuan untuk
diambil kayunya. Di lahan petani dimana pohon sengon tumbuh menyebar dengan
jarak tanam yang tidak teratur, sering pula dijumpai anakan alam.
Sistem
penanaman pohon Kemenyan secara monokultur dapat dilakukan pada lahan dengan
kepemilikan cukup luas maupun lahan perkebunan besar. Pemilihan sistim monokultur
sebaiknya mempertimbangkan sistem pengelolaan yang terencana dengan matang,
menyangkut biaya, tenaga kerja trampil, pemahaman teknis produksi getah
Kemenyan, serta sarana dan prasarana yang menunjang. Efisiensi perlu
dipertimbangkan yaitu dengan investasi seminimal mungkin akan dapat
menghasilkan nilai usaha seoptimal mungkin.
2.4 Jenis Pohon Yang Bernilai Ekonomi Tinggi
1. Pohon Sengon
Salah satu tanaman kehutanan yang berperan
penting dalam sektor industri dan kegiatan ekspor adalah sengon. Sengon (Paraserianthes
falcataria) merupakan salah satu komoditas ekspor potensial andalan
pemerintah dan telah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia karena
memiliki manfaat secara ekologis dan ekonomis yang tinggi. Sengon merupakan
salah satu tanaman kehutanan tahunan yang relatif lebih pendek masa panennya
dibandingkan tanaman kehutanan lainnya. Selain itu budidaya dan pemeliharaannya
yang cukup mudah membuat tanaman sengon dijadikan alternatif pilihan oleh
petani untuk meningkatkan pendapatannya. Hutan Rakyat adalah tanaman pada hutan
produksi yang dibangun oleh perorangan atau rakyat (petani) untuk meningkatkan
potensi dan kualitas hutan (Putra et al.,
2015).
2. Pohon Kemenyan
Secara ekonomis HHBK memiliki nilai ekonomi
tinggi dan berpeluang untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat. Salah satu HHBK yang banyak dimanfaatkan masyarakat adalah getah
kemenyan. Kemenyan ditetapkan sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu nabati
yang masuk dalam kelompok resin. Getah kemenyan (Styrax spp.) merupakan komoditi khas
Sumatera Utara yang bernilai ekonomi tinggi. Kemenyan adalah getah atau resin
yang dihasilkan pohon kemenyan (Styrax spp).
Pohon kemenyan dikelola
dalam bentuk hutan atau kebun campuran. Terdapat empat jenis kemenyan penghasil
getah bernilai ekonomis, namun hanya dua jenis utama yang disadap yaitu
kemenyan toba (Styrax sumatrana
J.J.Sm) dan kemenyan durame
(Styrax benzoin Dryand). Di antara
keduanya, kemenyan toba lebih disukai karena memiliki kualitas getah yang lebih
baik (padat dan jernih) serta harga jualnya relatif lebih tinggi. Permintaan
getah kemenyan tetap tinggi namun produktivitasnya menurun. Penurunan
produktivitas disebabkan penurunan populasi akibat penebangan, umur tanaman tua
dan permudaan yang mengandalkan regenerasi alam (Anas et al., 2017).
3. Pohon Damar
Pohon Damar (Agathis spp.) merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan
penghasil kayu yang berwarna terang, dikenal sebagai bahan baku vinir yang
menarik. Salah satu kegiatan pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilakukan
masyarakat di zona tradisional Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)
adalah pengambilan getah damar mata kucing (Shorea
javanica). Kegiatan tersebut belum mendapatkan perhatian pihak pengelola
sehingga kebijakan pengelolaan hutan lestari yang diambil belum menyentuh
masyarakat pengelola damar mata kucing. Sehingga potensi pohon damar yang ada
sangat penting untuk diketahui untuk kelangsungan dan keberlanjutan repong
damar. Ketergantungan masyarakat sekitar hutan dengan sumberdaya hutan
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: adat istiadat dan budaya
masyarakat, jenis mata pencaharian, tingkat pendapatan penduduk, tingkat
pendidikan dan tingkat pertumbuhan penduduk. Repong damar oleh masyarakat sekitar
hutan dijadikan sebagai daerah penunjang perekonomian dan penambah penghasilan
untuk mencukupi kebutuhan hidup (Yulizar et
al., 2014).
2.5
Produk Yang Dihasilkan
1.
Pohon Sengon
Secara global tanaman sengon dapat diambil
kayunya sebagai bahan baku pembuatan veneer, kayu lapis, kayu bulat, bahan baku
pembuatan pulp kertas dan lain-lain yang berkaitan dengan industri pengolahan
kayu.
2.
Pohon Kemenyan
Secara global tanaman kemenyan dapat
digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan parfum.
3.
Pohon Damar
Kayu damar hampir
lurus dan berkualitas baik dengan kelas kuat 3 dan kelas awet 4 dan ideal untuk
konstruksi lambung kapal pesiar, konstruksi rumah, kayu panel, pembuatan mebel
dan bantalan rel kereta api. Kayu damar juga digunakan dalam pembuatan gitar
karena sifat resonansinya yang baik.
Berbagai jenis damar menghasilkan beragam resin seperti kauri kopal, Manilla
kopal dan damar gum. Sehingga genus ini secara ekonomis sangat
penting (Herliyana, 2012).
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Pohon bernilai ekonomis tinggi adalah pohon yang memiliki nilai tinggi
dalam bidang pemanfaatan hasil hutan.
2.
Menanam adalah suatu bentuk kepedulian dan kecintaan manusia terhadap
bumi dan juga suatu kebaikan karena dapat memperbaiki fungsi hutan.
3.
Salah satu tanaman kehutanan yang berperan
penting dalam sektor industri dan kegiatan ekspor adalah Sengon (Paraserianthes falcataria) yang merupakan salah satu
komoditas ekspor potensial di wilayah Indonesia karena manfaat ekologis dan
ekonomis yang tinggi.
4.
Kemenyan (Styrax spp.) Merupakan komoditi khas Sumatra Utara yang bernilai
ekonomi tinggi karena menghasilkan getah atau resin.
5.
Pohon Damar (Agathis spp.) juga termasuk salah satu jenis tanaman
kehutanan bernilai ekonomis tinggi karena menghasilkan kayu berwarna terang dan
sebagai bahan baku vinir.
3.2 Saran
Sebaiknya sebagai Mahasiswa Kehutanan mengetahui betapa
pentingnya pohon dalam manfaatnya yang beragam yaitu salah satunya sebagai
sumber peningkatan ekonmi di Indonesia karena terdapatnya banyak pohon yang
bernilai ekonomis tinggi tanpa harus di eksploitasi secara berlebihan.
DAFTAR PUSTAKA
Anas A,
Cut RK. 2017. Faktor-faktor
Fenotipe dan Lingkungan Penentu Produktivitas Resin Kemenyan Toba (Styrax sumatrana J. J. Sm). Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana.
1(1) : 1 – 9.
Baskara M, Wicaksono KP. 2013. Tumbuhan Ficus:
Penjaga KeberlanjutanBudaya dan Ekonomi di Lingkungan Karst. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI.
Herliyana EN. 2012. Laporan Awal
Penyakit Busuk Akar Merah Ganoderma sp. pada Agathis sp. (Damar) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi,
Jawa Barat. Jurnal Silvikultur Tropika.
3(2) : 102 – 107.
Heru DR, Susi A, Ragil BWMP. 2019. Kajian
Sengon (Paraserianthes falcataria)
Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi dan Lingkungan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 6(3) : 201 208.
Irundu D, Andi A, Rahmania. 2018. Nilai
Ekonomi Langsung Berbagai Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Mirring,
Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Jurnal
Hutan dan Masyarakat. 10(1): 185 – 191.
Masripatin dkk. 2011. Cadangan Karbon pada
Berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Bogor.
Putra DSA, Dyah AHL, Irfan A. 2015.
Kelayakan Finansial dan Prospek Pengembangan Agribisnis Sengon (Albazia falcataria) Rakyat di Kecamatan
Kemiling Kota Bandar Lampung. JIIA.
3(4) : 345 – 353.
Yulizar, Agus H, Nandi K. 2014. Konservasi Damar
Mata Kucing
(Shorea javanica) Berbasis Masyarakat
di Zona Tradisional Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Media Konservasi. 19(2) : 73 – 80.

Wah isi blog kita sama wkwk
BalasHapus